Karena sekarang jamannya online
Mari jo Kuliah online di UT Manado
Selamat Bergabung di Universitas Terbuka
Pilihan Tepat Untuk Melanjutkan Pendidikan dan Meraih Cita-cita
Sukses Menanti Anda di Universitas Terbuka
Kini kuliah sambil kerja bukan impian belaka. Karena unversitas terbuka mampu memberikan kesempatan bagi lulusan SMA dan Sederajat dimanapun mereka berada untuk mendapatkan pendidikan tinggi dengan biaya terjangkau tanpa meninggalkan aktivitas kesehariannya.
Kuliah Online di UT, Bayarnya di Alfamart
Pembayaran LIP sekarang bisa di Alfamart
Bahan Ajar Digital
Memberikan layanan Bahan Ajar Digital kepada seluruh mahasiswa
Universitas Terbuka TV
Official Education UT TV Channel
Radio UT
Open Education Station To All
Toko Buku Online
Pembelian Bahan Ajar Cetak dan Digital, Sekarang bisa di beli lewat Online

Universitas Terbuka Unit Program Belajar Jarak Jauh (UT-UPBJJ) Manado kembali menggelar seminar untuk mahasiswanya. Seminar dengan tema, Dari Desa Kita Bangun Sulawesi Utara ini diadakan di Kantor UT Manado, Jl. Raya Manado - Tomohon, Kelurahan Winangun Kecamatan Malalayang, Selasa (20/12/2016). 

Seminar menghadirkan pembicara yakni Akademisi Fakultas Hukum Unsrat Manado DR Corneles Tangkere SH MH, Kepala Sub Bidang Aparatur Desa Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPMPD) Provinsi Sulut, Hairil Mokoginta, ST MSi, didampingi Kepala Sub Bidang Penguatan Aparatur Desa dan Kelurahan Ibu Heidy Iroth. Sedangkan moderator adalah Ketua UT-UPBJJ Manado, Ir Mulyadi MSi.

Hairil, dihadapan mahasiswa menjelaskan bagaimana kesiapan aparatur desa dalam pengelolaan keuangan desa (APBDes) untuk mewujudkan sosok desa yang mandiri dan berdaya saing tinggi seperti tercantum dalam sub tema seminar.

 Menurutnya, secara garis besar kebijakan yang diambil pemerintah untuk memback-up penyaluran dana desa adalah dengan mengangkat Kepala Desa berpendidikan minimal SMP dan perangkatnya adalah SMA. Mengapa demikian?

 "Perangkat desa seperti Sekretaris, Bendahara ini yang nantinya akan bertindak sebagai pengelola baik itu pembukuan atau keuangan, sedangkan Kepala Desa biasanya orang yang berpengaruh di desa itu meski tidak berpendidikan tinggi," ucapnya.

 Untuk bisa mengelola keuangan desa, katanya, Kementerian Dalam Negeri (Depdagri), menyekolahkan perangkat desa, serta memberikan pendamping di setiap desa yang akan membimbing cara pengelolaan keuangan agar tidak menyimpang dalam pemakaiannya.

 "Minimal mereka mengetahui pembukuan dasar atau cara pembuatan draf keuangan sederhana. Pendamping juga dibekali untuk bisa membuat Sistem Informasi Desa (SID), dimana setiap informasi desa dipublikasikan kepada warga desa itu sendiri," terang alumnus Teknik Sipil Unsrat Manado.

 Dijelaskan, dana desa sendiri terdiri dari 3 peruntukan yaitu untuk pembangunan desa seperti pembuatan MCK, pelabuhan jeti di desa pesisir dan lainnya. Juga ada pemberdayaan desa dengan contoh pengadaan bibit petani dan jala untuk kelompok nelayan. Sedangkan yang ketiga adalah pembinaan kemasyarakatan seperti Karang Taruna, pendirian Lembaga Adat dan organisasi masyarakat lainnya.

 Lanjut Hairil, mengenai dana desa yang tidak habis dipakai, ada aturan apabila yang belum mencapai 30 persen serapannya, bisa dipotong pada tahun berikut. Tapi uang itu tidak dikembalikan lagi ke negara.

 "Contohnya jika yang tidak terpakai itu sebesar Rp100 juta, maka uang tetap di rekening desa dan nantinya akan dipakai pada RKP tahun berikutnya," pungkasnya.

 Sementara itu, Corneles Tangkere mengedepankan mahasiswa UT yang umumnya tinggal di desa, untuk tidak malu kembali dan membangun desanya. Katanya, mahasiswa harus digerakkan, bangun semangat dan motivasi, serta disadarkan kembali eksistensi dia sebagai bagian dari masyarakat desa dengan sistem Mapalus.

 "Mereka harus bisa menjadi pelopor dan penggerak. Walaupun ada perbedaan dalam konteks kedaerahan tapi filosofi Mapalus itu berasal dari desa," katanya.

 Dosen tetap Fakultas Hukum Unsrat ini menjelaskan banyak orang yang menganggap mapalus di desa hanyalah sebagai kerja secara bergantian. Padahal, intinya adalah untuk kesejahteraan bersama seperti dalam slogan Sitou Timou Tumou Tou.

 "Jadi tanggungjawab kita semua untuk mengembalikan konsep dan jati diri itu ke desa karena itu adalah hakikat kehidupan manusia atau masyarakat desa," tandasnya.

 Mahasiswa sempat diingatkan akan desanya dengan menyanyikan lagu Desaku ciptaan Ibu Sud. Seminar lalu diakhiri dengan pemberian cenderamata kepada ketiga pembicara yang diserahkan langsung Ketua UT-UPBJJ Manado, Ir Mulyadi MSi.

Sumber: beritakawanua.com