Karena sekarang jamannya online
Mari jo Kuliah online di UT Manado
Selamat Bergabung di Universitas Terbuka
Pilihan Tepat Untuk Melanjutkan Pendidikan dan Meraih Cita-cita
Sukses Menanti Anda di Universitas Terbuka
Kini kuliah sambil kerja bukan impian belaka. Karena unversitas terbuka mampu memberikan kesempatan bagi lulusan SMA dan Sederajat dimanapun mereka berada untuk mendapatkan pendidikan tinggi dengan biaya terjangkau tanpa meninggalkan aktivitas kesehariannya.
Bahan Ajar Digital
Memberikan layanan Bahan Ajar Digital kepada seluruh mahasiswa
Universitas Terbuka TV
Official Education UT TV Channel
Radio UT
Open Education Station To All
Toko Buku Online
Pembelian Bahan Ajar Cetak dan Digital, Sekarang bisa di beli lewat Online
Setiap hasil karya pasti akan mendapat kritikan. Hal itu diungkapkan Weddy C. Pongoh, novelis muda asal Kelurahan Tondangouw Kecamatan Tomohon Selatan Kota Tomohon.
 
"Jangan takut, karena dikritik akan membuat kita akan lebih baik lagi ketika membuat karya lagi," ungkapnya pada Seminar Bedah Buku 'Kasih yang Terhilang' di Universitas Terbuka (UT) Manado, Sabtu (10/12/2016).
 
Buku Kasih yang Hilang adalah hasil karya tulisnya yang melewati beberapa proses yang sangat sulit. Berawal dari tulisan tangan asal jadi, lalu disalin ke komputer dan diedit lagi. "Saya bahkan sampai 45 kali melakukan perubahan dan butuh waktu sekitar 7-8 bulan untuk menyelesaikan buku ini," terang mahasiswa semester 8 UT Manado Program Study Ilmu Komunikasi.
 
Pembicara seminar bedah buku ini, Pengamat Sastra dan penulis Reiner O. Ointoe bersama dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sam Ratulangi, Dr Djeinnie Imbang mengatakan mengapa harus buku Kasih yang Terhilang yang dibedah? "Karena ini merupakan karya mahasiswa Universitas Terbuka pertama di Sulut," kata Mner, panggilan akrab Reiner O. Ointoe.
 
Menurutnya, sepanjang yang diketahuinya, perguruan tinggi di Sulut khususnya Manado, belum ada yang meluncurkan karya tulisan, baik berupa novel, buku atau karya ilmiah yang diterbitkan oleh penerbit lokal dan ditulis oleh penulis lokal.
 
"Nah saya kira ini merupakan kejutan akhir tahun 2016 ada seorang mahasiswa yang berhasil menulis sebuah novel. Karena setahu saya, penulis lokal di Sulut baru sekitar 10 orang yang sudah menuliskan bukunya dari tahun 70-an sampai tahun kontemporer ini," tandasnya.
 
Ointoe menjelaskan, ini tidak pernah terjadi di Universitas manapun. Karena setahunya belum ada mahasiswa bahkan alumni Fakultas Sastra yang pernah mendiskusikan atau melaunching serta membedah suatu buku dari karya mahasiswa. "Kalau dosen tidak masalah, tapi ini mahasiswa loh, mahasiswa yang sudah berani berkarya, novelnya lagi, itu poinnya," ucapnya.
 
Bedah buku ini terangnya bukanlah untuk mencari kekurangan dari karya yang sudah diterbitkan. Tapi bagaimana menjadikan produktivitas ini sebagai bagian dari suatu industri budaya penulisan buku.
 
Ini juga dikatakan sebagai gerakan kebudayaan dalam bentuk literatur, buku tulisan. Apalagi buku Kasih yang Hilang adalah sebuah novel, meskipun  jenisnya masih tergolong kopelit atau populer literatur atau juga sastra pop.
 
"Bagi saya sebagai seorang pengamat di dunia sastra, ini adalah suatu inovasi bagi universitas lain. Dan sangat luar biasa adalah Universitas Terbuka bisa menghasilkan seorang novelis," pungkas Ointoe.
 
Kepala Universitas Terbuka (UT) Manado, Bpk. Mulyadi mengatakan peningkatan atmosfer akademik mahasiswa itu sangat penting. Dari beberapa kajian yang sudah dilakukan baik berupa pelatihan, diklat dan lainnya, ada celah atau peluang untuk memberikan kegiatan seperti bedah buku.
 
"Kebetulan sekali Weddy Pongoh adalah mahasiswa UT, dan ini menandakan UT bisa memberikan kesempatan bagi mahasiswanya untuk berkarya," ujarnya.
 
Kegiatan ini lanjutnya, merupakan pangkal tolak, awal daripada untuk melakukan bedah buku yang lainnya yang tidak hanya terbatas kepada kesusastraan. Apalagi bedah buku ini baru pertama kali dilakukan 34 UT di 34 provinsi di Indonesia serta 39 kantor yang juga melayani mahasiswa UT di luar negeri di 15 negara.
 
"Barangkali juga kita bisa membedah buku yang relatif lebih memerlukan pemikiran jauh seperti FB misalnya atau buku-buku lain yang berkenaan dengan kebudayaan.
Mudah-mudahan UT bisa membuat gagasan dan ide yang lebih luas lagi," pungkas Mulyadi.
 
Dalam seminar ini, diserahkan sertifikat cenderamata kepada 2 pembicara serta kepada penulis novel 'Kasih yang Hilang' dan pemberian sertifikat kepada seluruh mahasiswa Universitas Terbuka Manado yang menjadi peserta.