Jumat, 10 Februari 2017, UPBJJ-UT Manado melaksanakan pelantikan dan pengambilan sumpah pejabat baru periode 2017 – 2021. Pengambilan sumpah dilaksanakan oleh Kepala UPBJJ-UT Manado; Ir. Mulyadi, M.Si. Pejabat baru yang diangkat adalah Fransiska Teresia Pandey, S.IP sebagai Kepala Sub Bagian TU menggantikan Tri Mariono, S.T yang telah menjabat selama dua periode.

Dalam sambutannya Kepala UPBJJ-UT Manado, menyampaikan ucapan terima kasih kepada pejabat sebelumnya atas segala kerja keras dan pengabdian selama menjadi Ka. Subbag TU, dan mengharapkan untuk tetap membantu pejabat baru dalam menjalankan tugasnya. Kepada pejabat baru beliau berharap agar dapat meningkatkan kinerja dan kerjasama pada bagian TU, untuk meneruskan tujuan dan target yang telah direncanakan periode sebelumnya sehingga dapat menjalankan program dengan baik.

Hadir dalam kegiatan tersebut adalah perwakilan kepegawaian UT Pusat, seluruh pegawai dan staf UPBJJ-UT Manado. Terima kasih kepada pejabat lama, dan selamat bertugas kepada pejabat baru.

 

IMG 7565 IMG 7576 IMG 7595

Pada Sabtu, 21 November 2015, Sivitas Akademika UPBJJ-UT Manado, telah melaksanakan kegiatan pencanangan penanaman mangrove di Desa Tarabitan, Kabupaten Minahasa Utara. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Abdimas Penghijauan Universitas Terbuka. 

Kegiatan yang mengambil tema “Bersama UT, Hijaukan Pesisir, Perkuat Benteng Maritim ini, bertujuan untuk mendukung terlaksananya program pemerintah “Penanaman Satu Milyar Pohon”, serta menumbuhkan kepedulian sivitas akademika UT (dosen dan mahasiswa) dalam menjaga kelestarian lingkungan, sekaligus mengajak dan memberdayakan masyarakat sekitar  untuk menjaga dan merawat lingkungannya, agar dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya.(wm)

   
   

Universitas Terbuka Unit Program Belajar Jarak Jauh (UT-UPBJJ) Manado kembali menggelar seminar untuk mahasiswanya. Seminar dengan tema, Dari Desa Kita Bangun Sulawesi Utara ini diadakan di Kantor UT Manado, Jl. Raya Manado - Tomohon, Kelurahan Winangun Kecamatan Malalayang, Selasa (20/12/2016). 

Seminar menghadirkan pembicara yakni Akademisi Fakultas Hukum Unsrat Manado DR Corneles Tangkere SH MH, Kepala Sub Bidang Aparatur Desa Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPMPD) Provinsi Sulut, Hairil Mokoginta, ST MSi, didampingi Kepala Sub Bidang Penguatan Aparatur Desa dan Kelurahan Ibu Heidy Iroth. Sedangkan moderator adalah Ketua UT-UPBJJ Manado, Ir Mulyadi MSi.

Hairil, dihadapan mahasiswa menjelaskan bagaimana kesiapan aparatur desa dalam pengelolaan keuangan desa (APBDes) untuk mewujudkan sosok desa yang mandiri dan berdaya saing tinggi seperti tercantum dalam sub tema seminar.

 Menurutnya, secara garis besar kebijakan yang diambil pemerintah untuk memback-up penyaluran dana desa adalah dengan mengangkat Kepala Desa berpendidikan minimal SMP dan perangkatnya adalah SMA. Mengapa demikian?

 "Perangkat desa seperti Sekretaris, Bendahara ini yang nantinya akan bertindak sebagai pengelola baik itu pembukuan atau keuangan, sedangkan Kepala Desa biasanya orang yang berpengaruh di desa itu meski tidak berpendidikan tinggi," ucapnya.

 Untuk bisa mengelola keuangan desa, katanya, Kementerian Dalam Negeri (Depdagri), menyekolahkan perangkat desa, serta memberikan pendamping di setiap desa yang akan membimbing cara pengelolaan keuangan agar tidak menyimpang dalam pemakaiannya.

 "Minimal mereka mengetahui pembukuan dasar atau cara pembuatan draf keuangan sederhana. Pendamping juga dibekali untuk bisa membuat Sistem Informasi Desa (SID), dimana setiap informasi desa dipublikasikan kepada warga desa itu sendiri," terang alumnus Teknik Sipil Unsrat Manado.

 Dijelaskan, dana desa sendiri terdiri dari 3 peruntukan yaitu untuk pembangunan desa seperti pembuatan MCK, pelabuhan jeti di desa pesisir dan lainnya. Juga ada pemberdayaan desa dengan contoh pengadaan bibit petani dan jala untuk kelompok nelayan. Sedangkan yang ketiga adalah pembinaan kemasyarakatan seperti Karang Taruna, pendirian Lembaga Adat dan organisasi masyarakat lainnya.

 Lanjut Hairil, mengenai dana desa yang tidak habis dipakai, ada aturan apabila yang belum mencapai 30 persen serapannya, bisa dipotong pada tahun berikut. Tapi uang itu tidak dikembalikan lagi ke negara.

 "Contohnya jika yang tidak terpakai itu sebesar Rp100 juta, maka uang tetap di rekening desa dan nantinya akan dipakai pada RKP tahun berikutnya," pungkasnya.

 Sementara itu, Corneles Tangkere mengedepankan mahasiswa UT yang umumnya tinggal di desa, untuk tidak malu kembali dan membangun desanya. Katanya, mahasiswa harus digerakkan, bangun semangat dan motivasi, serta disadarkan kembali eksistensi dia sebagai bagian dari masyarakat desa dengan sistem Mapalus.

 "Mereka harus bisa menjadi pelopor dan penggerak. Walaupun ada perbedaan dalam konteks kedaerahan tapi filosofi Mapalus itu berasal dari desa," katanya.

 Dosen tetap Fakultas Hukum Unsrat ini menjelaskan banyak orang yang menganggap mapalus di desa hanyalah sebagai kerja secara bergantian. Padahal, intinya adalah untuk kesejahteraan bersama seperti dalam slogan Sitou Timou Tumou Tou.

 "Jadi tanggungjawab kita semua untuk mengembalikan konsep dan jati diri itu ke desa karena itu adalah hakikat kehidupan manusia atau masyarakat desa," tandasnya.

 Mahasiswa sempat diingatkan akan desanya dengan menyanyikan lagu Desaku ciptaan Ibu Sud. Seminar lalu diakhiri dengan pemberian cenderamata kepada ketiga pembicara yang diserahkan langsung Ketua UT-UPBJJ Manado, Ir Mulyadi MSi.

Sumber: beritakawanua.com

     
Setiap hasil karya pasti akan mendapat kritikan. Hal itu diungkapkan Weddy C. Pongoh, novelis muda asal Kelurahan Tondangouw Kecamatan Tomohon Selatan Kota Tomohon.
 
"Jangan takut, karena dikritik akan membuat kita akan lebih baik lagi ketika membuat karya lagi," ungkapnya pada Seminar Bedah Buku 'Kasih yang Terhilang' di Universitas Terbuka (UT) Manado, Sabtu (10/12/2016).
 
Buku Kasih yang Hilang adalah hasil karya tulisnya yang melewati beberapa proses yang sangat sulit. Berawal dari tulisan tangan asal jadi, lalu disalin ke komputer dan diedit lagi. "Saya bahkan sampai 45 kali melakukan perubahan dan butuh waktu sekitar 7-8 bulan untuk menyelesaikan buku ini," terang mahasiswa semester 8 UT Manado Program Study Ilmu Komunikasi.
 
Pembicara seminar bedah buku ini, Pengamat Sastra dan penulis Reiner O. Ointoe bersama dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sam Ratulangi, Dr Djeinnie Imbang mengatakan mengapa harus buku Kasih yang Terhilang yang dibedah? "Karena ini merupakan karya mahasiswa Universitas Terbuka pertama di Sulut," kata Mner, panggilan akrab Reiner O. Ointoe.
 
Menurutnya, sepanjang yang diketahuinya, perguruan tinggi di Sulut khususnya Manado, belum ada yang meluncurkan karya tulisan, baik berupa novel, buku atau karya ilmiah yang diterbitkan oleh penerbit lokal dan ditulis oleh penulis lokal.
 
"Nah saya kira ini merupakan kejutan akhir tahun 2016 ada seorang mahasiswa yang berhasil menulis sebuah novel. Karena setahu saya, penulis lokal di Sulut baru sekitar 10 orang yang sudah menuliskan bukunya dari tahun 70-an sampai tahun kontemporer ini," tandasnya.
 
Ointoe menjelaskan, ini tidak pernah terjadi di Universitas manapun. Karena setahunya belum ada mahasiswa bahkan alumni Fakultas Sastra yang pernah mendiskusikan atau melaunching serta membedah suatu buku dari karya mahasiswa. "Kalau dosen tidak masalah, tapi ini mahasiswa loh, mahasiswa yang sudah berani berkarya, novelnya lagi, itu poinnya," ucapnya.
 
Bedah buku ini terangnya bukanlah untuk mencari kekurangan dari karya yang sudah diterbitkan. Tapi bagaimana menjadikan produktivitas ini sebagai bagian dari suatu industri budaya penulisan buku.
 
Ini juga dikatakan sebagai gerakan kebudayaan dalam bentuk literatur, buku tulisan. Apalagi buku Kasih yang Hilang adalah sebuah novel, meskipun  jenisnya masih tergolong kopelit atau populer literatur atau juga sastra pop.
 
"Bagi saya sebagai seorang pengamat di dunia sastra, ini adalah suatu inovasi bagi universitas lain. Dan sangat luar biasa adalah Universitas Terbuka bisa menghasilkan seorang novelis," pungkas Ointoe.
 
Kepala Universitas Terbuka (UT) Manado, Bpk. Mulyadi mengatakan peningkatan atmosfer akademik mahasiswa itu sangat penting. Dari beberapa kajian yang sudah dilakukan baik berupa pelatihan, diklat dan lainnya, ada celah atau peluang untuk memberikan kegiatan seperti bedah buku.
 
"Kebetulan sekali Weddy Pongoh adalah mahasiswa UT, dan ini menandakan UT bisa memberikan kesempatan bagi mahasiswanya untuk berkarya," ujarnya.
 
Kegiatan ini lanjutnya, merupakan pangkal tolak, awal daripada untuk melakukan bedah buku yang lainnya yang tidak hanya terbatas kepada kesusastraan. Apalagi bedah buku ini baru pertama kali dilakukan 34 UT di 34 provinsi di Indonesia serta 39 kantor yang juga melayani mahasiswa UT di luar negeri di 15 negara.
 
"Barangkali juga kita bisa membedah buku yang relatif lebih memerlukan pemikiran jauh seperti FB misalnya atau buku-buku lain yang berkenaan dengan kebudayaan.
Mudah-mudahan UT bisa membuat gagasan dan ide yang lebih luas lagi," pungkas Mulyadi.
 
Dalam seminar ini, diserahkan sertifikat cenderamata kepada 2 pembicara serta kepada penulis novel 'Kasih yang Hilang' dan pemberian sertifikat kepada seluruh mahasiswa Universitas Terbuka Manado yang menjadi peserta.